Thursday, 2 January 2014

William Surya Djaya (pendiri PT. Astra International)


Siapa sesungguhnya pendiri PT. Astra Internasional? Adakah ia seorang yang terlahir dari keluarga kaya atau pejabat papan atas di negeri ini? Atau sebaliknya, dia rakyat jelata yang hidupnya diwarnai banyak penderitaan.
Untuk melihat itu semua, merilah kita sejenak melihat kegetiran hidup masa lalu beliau.
William Soeryadjaya, begitulah nama yang paling akrab dipanggil. William Soeryadjaya yang memiliki nama asli Tjia Kian Liong lahir di Majalengka, Jawa Barat. Saat usianya mencapai 12 tahun ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya untuk selama-lamanya. Ketika usianya menginjak 19 tahun, ia mengenyam pendidikan di MULO Cirebon. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Karena keterbatasan ekonomi, ia menjadi penjual kertas di Cirebon. Namun, usahanya tidak hanya berhenti disitu saja, ia juga berjualan barang tenun di Majalaya. Namun, tidak lama kemudian, ia beralih menjadi pedagang hasil bumi, seperti beras, gula, kacang dan lain-lain.
Tekad William untuk berdagang pada mulanya didorong oleh keinginan untuk menghidupi saudara-saudaranya. Hingga, berkat keuletannya dalam berdagang. Iapun dapat melanjutkan stidinya ke Belanda dan masuk sekolah industry yang mengajarkan penyamakan kulit. Baru sekembalinya ke tanah air, tepatnya pada tahun 1949 ia mendirikan penyamakan kulit yang pengelolaannya dipegang oleh temannya.
William memang orang yang tidak [ernah puas dengan pencapaian bisnisnya. Berbagai usah telah ia jalnakan. Hal ini terbukti setelah tiga tahun mendirikan industry penyamakan kulit, ia mendirikan CV Sangabuana, sebuah usaha yang bergerak dibidang ekspor-import. Namun, karena ditipu oleh temannya sendiriia mengalami kerugian dalam bisnis itu.
Akhirnya pada tahun 1957, William mendirikan PT. Astra Internasional Inc. dalam menjalankan perusahaan barunya itu, ia dibantu oleh adiknya, Drs. Tjia KIan Tie, dan rekannya Lim Peng Hong. Pada awalnya, perusahaan ini bergerak dalam pemasaran air minum ringan (Prem Club), ditambah dengan mengekspor hasil  bumi. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, PT. Astra Internasional Inc makin meningkat. Lahan garapan makin meluas ke berbagai sektor otomotif, peralatan berat, peralatan kantor, perkayuan dan lain sebagainya.
Kemudian, pada tahun 1968-1969, Astra diperkenankan memasok 800 kendaraan merek Chevrolet. Hal itu dikarenakan program pemerintah yang waktu itu mengadakan rehabilitasi besar-besaran, dan sejak saat itu pula, Astra kerap ditunjuk sebagai rekan pemerintah dalam menyediakan saranna pembangunan. William sendiri mengaku bahwa ia meraup keuntungan yang snagat besar.
Jika pad awalnya Astra hannya mampu memasok barang , tetapi pada perkembangan selanjutnya, Astra mulai merakit alat-alat berat dan menanganinya. Sepeti Chevrolet, Komatsu, mobil Toyota,dan Daihatsu, seperti motor Honda, dan mesin fotokpi Xerox. Selain itu masih ada bisnis lain ang digeluti Astra, yaitu agrobisnis dengan membuka kawasan pertanian kelapa dan cassava seluas 15.000 hektar di Lampung. Hingga pada tehun 1948, Astra memperoleh omset sebesar 1,5 miliar dolar USA.
Dengan keuntunganyang seperti itu, Astra membeli Summa Hendelsbank Ag, Deulsdorf, Jerman. Pengelolaan bank yang tidak ada kaitannya dengan bisnisnya yang kemudian diberikan kepada putra pertamanya, Edward Soeryadjaya, sarjana ekonomi lulusan Jerman Barat.
Di bank ini William mengantongi 60% saham yang dibagi rata dengan Edward. Tetapi sayangnya Edward kurang berhati-hati dalam menjalankan roda perusahaannya itu. Edward terlalu royal dalam mengumbar kredt. Akibatnya pada tahun 1992, bank ini dilanda utang dan untuk melunasinya ia harus melepas kepemilikannya di Astra.
Atas kenyataan itu William hanya bisa pasrah. Ia selalu berpegang pada prinsip manusia berusaha tuhan menentukan. Yang paling penting baginya saat itu adalah karyawan dan nasabah Bank Summa. Ia teramat sedih jika harus melihat pegawai sebanyak itu harus kehilangan pekerjaanya.
Banyak spekulasi ketika William menjual sahamnya di Astra. Spekulasi ini banyak diyakini dilakukan oleh pemerintah untuk menjatuhkannya. Namun Wlliam sendiri tidak pernah merasa dikorbankan oleh sistem. Semua itu dianggapnya sebagai konsekuensi bisnis. Ia tidak mau larut dalam konsekuensi bisnis dan keluhan. Dengan ketulusan ia maju kedepan dengan pengharapan agar Astra dapat berperan sebagai agen ekonomi nasional, yang antara lain dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi.
Membuka lapangan kerja adalah salah satu impian William yang membara sejak dari dulu. Sebuah impian dan obsesi yang dilandasi kepada kepedulian sesame.
Impian inilah yang mendorongnya membeli saham PT. Mandiri Intifinance. Di sini, ia mengumpulkan dana untuk diinvestasikan dalam pengembangan usaha petani dan pengusaha kecil. Agar dapt menciptakan lapangan kerja baru dan  meningkatkan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya dapat mengangkat bangsa ini dari keterpurukan.

0 comments:

Post a Comment