Siapa sesungguhnya pendiri PT. Astra
Internasional? Adakah ia seorang yang terlahir dari keluarga kaya atau pejabat
papan atas di negeri ini? Atau sebaliknya, dia rakyat jelata yang hidupnya
diwarnai banyak penderitaan.
Untuk melihat itu semua, merilah kita
sejenak melihat kegetiran hidup masa lalu beliau.
William Soeryadjaya, begitulah nama yang
paling akrab dipanggil. William Soeryadjaya yang memiliki nama asli Tjia Kian
Liong lahir di Majalengka, Jawa Barat. Saat usianya mencapai 12 tahun ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya untuk selama-lamanya. Ketika usianya
menginjak 19 tahun, ia mengenyam pendidikan di MULO Cirebon. Tetapi hal itu
tidak berlangsung lama. Karena keterbatasan ekonomi, ia menjadi penjual kertas
di Cirebon. Namun, usahanya tidak hanya berhenti disitu saja, ia juga berjualan
barang tenun di Majalaya. Namun, tidak lama kemudian, ia beralih menjadi
pedagang hasil bumi, seperti beras, gula, kacang dan lain-lain.
Tekad William untuk berdagang pada mulanya
didorong oleh keinginan untuk menghidupi saudara-saudaranya. Hingga, berkat
keuletannya dalam berdagang. Iapun dapat melanjutkan stidinya ke Belanda dan
masuk sekolah industry yang mengajarkan penyamakan kulit. Baru sekembalinya ke tanah
air, tepatnya pada tahun 1949 ia mendirikan penyamakan kulit yang
pengelolaannya dipegang oleh temannya.
William memang orang yang tidak [ernah puas
dengan pencapaian bisnisnya. Berbagai usah telah ia jalnakan. Hal ini terbukti
setelah tiga tahun mendirikan industry penyamakan kulit, ia mendirikan CV
Sangabuana, sebuah usaha yang bergerak dibidang ekspor-import. Namun, karena
ditipu oleh temannya sendiriia mengalami kerugian dalam bisnis itu.
Akhirnya pada tahun 1957, William mendirikan
PT. Astra Internasional Inc. dalam menjalankan perusahaan barunya itu, ia
dibantu oleh adiknya, Drs. Tjia KIan Tie, dan rekannya Lim Peng Hong. Pada
awalnya, perusahaan ini bergerak dalam pemasaran air minum ringan (Prem Club),
ditambah dengan mengekspor hasil bumi.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya, PT. Astra Internasional Inc makin
meningkat. Lahan garapan makin meluas ke berbagai sektor otomotif, peralatan
berat, peralatan kantor, perkayuan dan lain sebagainya.
Kemudian, pada tahun 1968-1969, Astra
diperkenankan memasok 800 kendaraan merek Chevrolet. Hal itu dikarenakan
program pemerintah yang waktu itu mengadakan rehabilitasi besar-besaran, dan
sejak saat itu pula, Astra kerap ditunjuk sebagai rekan pemerintah dalam
menyediakan saranna pembangunan. William sendiri mengaku bahwa ia meraup
keuntungan yang snagat besar.
Jika pad awalnya Astra hannya mampu memasok
barang , tetapi pada perkembangan selanjutnya, Astra mulai merakit alat-alat
berat dan menanganinya. Sepeti Chevrolet, Komatsu, mobil Toyota,dan Daihatsu, seperti
motor Honda, dan mesin fotokpi Xerox. Selain itu masih ada bisnis lain ang
digeluti Astra, yaitu agrobisnis dengan membuka kawasan pertanian kelapa dan
cassava seluas 15.000 hektar di Lampung. Hingga pada tehun 1948, Astra
memperoleh omset sebesar 1,5 miliar dolar USA.
Dengan keuntunganyang seperti itu, Astra
membeli Summa Hendelsbank Ag, Deulsdorf, Jerman. Pengelolaan bank yang tidak
ada kaitannya dengan bisnisnya yang kemudian diberikan kepada putra pertamanya,
Edward Soeryadjaya, sarjana ekonomi lulusan Jerman Barat.
Di bank ini William mengantongi 60% saham
yang dibagi rata dengan Edward. Tetapi sayangnya Edward kurang berhati-hati
dalam menjalankan roda perusahaannya itu. Edward terlalu royal dalam mengumbar
kredt. Akibatnya pada tahun 1992, bank ini dilanda utang dan untuk melunasinya
ia harus melepas kepemilikannya di Astra.
Atas kenyataan itu William hanya bisa
pasrah. Ia selalu berpegang pada prinsip manusia berusaha tuhan menentukan.
Yang paling penting baginya saat itu adalah karyawan dan nasabah Bank Summa. Ia
teramat sedih jika harus melihat pegawai sebanyak itu harus kehilangan
pekerjaanya.
Banyak spekulasi ketika William menjual
sahamnya di Astra. Spekulasi ini banyak diyakini dilakukan oleh pemerintah
untuk menjatuhkannya. Namun Wlliam sendiri tidak pernah merasa dikorbankan oleh
sistem. Semua itu dianggapnya sebagai konsekuensi bisnis. Ia tidak mau larut
dalam konsekuensi bisnis dan keluhan. Dengan ketulusan ia maju kedepan dengan
pengharapan agar Astra dapat berperan sebagai agen ekonomi nasional, yang
antara lain dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi.
Membuka lapangan kerja adalah salah satu
impian William yang membara sejak dari dulu. Sebuah impian dan obsesi yang
dilandasi kepada kepedulian sesame.
Impian inilah yang mendorongnya membeli
saham PT. Mandiri Intifinance. Di sini, ia mengumpulkan dana untuk
diinvestasikan dalam pengembangan usaha petani dan pengusaha kecil. Agar dapt
menciptakan lapangan kerja baru dan
meningkatkan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya dapat mengangkat
bangsa ini dari keterpurukan.


0 comments:
Post a Comment