Thursday, 2 January 2014

Dr. Ir. Ciputra (sang entrepeneur kawakan)


Kepahitan masa lalu terkadang mampu membangkitkan seseorang untuk menjadi manusia nomor wahid di dunia. Sebagaimana yang dialami Dr. Ir. Ciputra yang memiliki nama asli Tjie Tjin Hoan. Kehidupan masa kecilnya yang diwarnai penderitaan ternyata mampu mencetak dirinya menjadi entrepreneur yang berhasil memepelopori lima grup usaha kawakan di negeri ini. Diantaranya adalah Usaha Jaya, Metropolitan, Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, Dan Ciputra Development yang masing-masing memiliki bisnis inti disektor properti.
Penderitaan itu berawal sejak usianya dua belas tahun. Sejak usia itu, ia kehilangan ayahnya yang meninggal di tahanan Jepang, ia dituduh menjadi mata-mata Belanda. Ciputra lahir pada tanggal 24 Agustus 1931 di kota kecil Perigi, Sulawesi Tengah adalah anak ke tiga dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio yang juga memiliki latar belakang sederhana.
Karena penderitaan masa kecil itulah, Ciputra bertekad untukbersekolah di pulau Jawa demi kebaikan masa depannya, yakni keluar dari belenggu kemelaratan dan kemiskinan. Walau usianya sudah terlambat empat belas tahunia tetap masuk kelas tiga SD di Bumbungan. Ketika usianya mencapai enam belas tahun, ia lulus dari SD dan melanjutkan SMPnya di Gorontalo. Dan SMA di Manado. Selanjutnya ia kuliah di ITB jurusan arsitektur.
Semenjak menjadi mahasiswa itulah Ciputra memulai bisnisnya. Pada tahun 1957 ia bersama Ismail Sofyan dan Budi Brasali mendirikan PT. Jaya Cipta. Pada masa itu, biro arsitek milik ketiga mahasiswa itu sudah memperoleh hasil yang gemilang disbanding pengusaha lainnya. Di antara proyek yang mereka tangani adalah gedung bank bertingkat di Banda Aceh.
Pada tahun 1960, saat Ciputra lulus dari IPB,dihadapan kawan-kawannya (Ismail Sofyan dan Budi Brasali) dengan tegas ia berkata, “marilah kita ke Jakarta, sebab disana banyak pekerjaan”
Keputusan ini menjadi tonggak sejarah yang menentukan jalan hidup Ciputra dan kedua rekannya. Dengan bendera PT. Perentjaja Djaja IPD, proyek bergengsi yang ditembak Ciputra adalah pembangunan pusat perbelajaan di kawasan Senen. Dengan berbagai cara, Ciputra berusaha menemui Gubernur Jakarta yang waktu itu Dr. R. Soemarno, untuk menawarkan proposalnya pertemuan dengan Soemarno kemudian ditindak lanjuti dengan mendirikan PT. Pembangunan Jaya.
Setelah itu, proyek monumental Ciputra adalah Taman Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jaya. Melalui perusahaan yang 40% sahamnya dimiliki oleh pemda DKI ini, Ciputra menunjukkan kelasnya sebagai entrepreneur sekaligus professional dalam menghimpun sumber daya yang ada menjadi kekuatan bisnis raksasa.
Grup Jaya yang didirikan pada 1961 dengan modal Rp. 10 juta, total asetnya berkembang menjadi 5 triliyun. Ciputra memilki saham di lima kelompok usaha 9(Jaya, Metropolitan, Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, Dan Ciputra). Ciputra memiliki saham terbesar di Jaya.
Sementara PT. Metropolitan development adalah perusahaan yang ia bentuk bersama Ismail Sofyan dan Budi Brasali dan beberapa mitra lain. Kelompok usaha Ciputra yang ketiga adalah Grup Pondok Indah (PT. Metropolitan Kencana) yang merupakan patungan antara usaha PT. Metropolitan dan Waringin Kencana milik Sudwikatmono dan Sudono Salim. Kelompok usaha yang ke empat adalah PT. Bumi Serpong Damai, yang didirikan pada awal 80-an. Sementara Grup Ciputra adalah kelompok usahanya yang kelima.
Karya-karya terbaru Ciputra saat ini mencapai sebelas buah bangunan tersebar di Jabodetabek, Surabaya dan Vietnam dengan luas lahan mencakup 20.000 hektar lebih. Semisal Bumi Serpong Damai, Pantai indah Kapuk, Puri Jaya, Citaraya Kota Nuansa Seni, Kota Taman Bintaro Jaya, Pondok Indah, Citra Indah, Kota Taman Metropolitan, Citra Raya Surabaya, Kota Baru Sidoarjo, Dan Citra Westlake City Di Hanoi , Vietnam.
Inilah sekelumit kisah Ciputra sebagai manusia yang mampu menjadikan masa lalunya yang pahit sebagai kunci untuk keluar dari belenggu kemiskinan dan kemelaratan. Selain itu, banyak saksi hidupnya yang mengatakan bahwa pada masa remajanya, pendidikan Ciputra merupakan perpaduan antara pendidikan formal dan non-formal. Selain aktif di dalam kelas, ia juga menggembleng dirinya diluar kelas yang oleh banyak orang disebut sekolah kehidupan. Dari sekolah kehidupan itulah Ciputra hidup menjadi pribad yang utuh dan mandiri. Karena itu wajar saja bahwa Ciputra berpendapat bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membangun manusia seutuhnya, yakni membangun moral, mendorong kreativitas, dan membentuk karakter manusia yang mandiri.

0 comments:

Post a Comment