”suamiku, kita harus tetap
melakukan sesuatu agar impian kita tetap hidup”
Begitulah ungkap istri di
hadapan Darrow, memberi semangat.
“impian kita telah mati!
Kita telah gagal!” balas Darrow yang patah arang
“tidak, kita tidak gagal.
Kita hanya tinggal menunggu waktunya.” Sang istri itu tetap tidak mau percaya
bahwa impiannya telah mati. Bahkan, ia sama sekali tidak mau mengubur impiannya
tersebut. Untuk tetap menjaga agar impiannya itu tetap hidup, ia selalu mengajak
sang suami untuk merancang apa yang akan mereka lakukan jika suatu saat nanti
mereka menjadi jutawan. Keduanya lalu mulai melakukan hal ini setiap kali
seusai makan malam.
Menjadi jutawan adalah
mimpi Charles Darrow sebelum menikah. Saat itu, ia berumur dua puluh tahun, ia
utarakan mimpinya itu kepada kekasihnya.
Beberapa waktu kemudian
akhirnya mereka menikah. Sayangnya, di usia pernikahan yang masih muda, krisis
ekonomi melanda Amerika. Masa depresi besarpun tiba. Pasangan pengantin baru
inipun mengalami kejadian menyedihkan. Mereka harus kehilangan pekerjaan dan
mobil. Dari hari ke hari tabungan mereka kian menipis, bahkan rumahnya pun
mereka gadaikan.
Darrow mengalami frustasi
yang luar biasa. Ia sering duduk termenung seorang diri. Karena Darrow merasa
tidak mampu lagi menjadi suami yang baik dan gagal dalam hidupnya, iapun
menyarankan istrinya untuk meninggalkan ia seorang diri.
Justru yang terjadi
sebaliknya, sang istri tetap setia dan menguatkan Darrow. Selain itu, istrinya
tidak pernah bosan meyakinkan Darrow bahwa impian untuk menjadi jutawan belum
mati, dan pada suatu saat nanti mereka pasti bisa meraihnya.
Waktu terus berlalu, dan
aktivitas mereka berjalan seperti biasa. Hingga pad awal tahun 1930, Darrow
membuat sebuah permainan (monopoly). Ia membuat permainan dengan versinya
sendiri berdasarkan resort favoritnya yakni Atlantic City. Darrow membuat
bermacam-macam inovasiuntuk permainannya dengan model permainan melingkar pada
papan kain. Kemudian permainan itu dimainkan di rumah temannya.
Tidak lama kemudian, bukan
hanya teman-temannya saja yang memainkan permainan itu. Tetapi toko-toko di
dekat Philadelphia meminta Darrow untuk membuatkannya dengan harga $4 per biji.
Karena banyaknya pesanan,
Darrow tidak mampu lagi menanganinya sendiri. Kemudian ia mengirim surat ke
Parker Brothers, dan menanyakan kemungkinan untuk membeli dan mambuat permainan
monopoly yang saat itu sudah dipatenkan.
Parker Brothers menolaknya
dengan berbagai alasan. Tetapi setelah mengetahui tingginya penjualan permainan
itu, Parker Brothers berubah pikiran. Mereka kemudian membeli hak Darrow, dan
memberikan royalty untuk tiap papan mainan yang terjaul. Setelah pension,
setahun kemudian Charles Darrow menjadi jutawan


0 comments:
Post a Comment