Thursday, 2 January 2014

Olivia Lum (Perempuan terkaya di dunia)


Olivia Lum adalah pendiri Hyflux, sebuah perusahaan pengolahan air mineral terbesar di asia tenggara yang sudah merambah Cina, India, dan Timur Tengah. Pada tahun 2007, perusahaannya mampu mencetak pendapatan hingga US$ 700 juta dan menjadikan Hyflux sebagai perusahaan multi miliar dolar.
Atas segala sepak terjangnya, Lum meraih banyak penghargaan. Pada 2003 ia dikukuhkan sebagai Young entrepreneur of the year Singapura. Dan tahun berikutnya Hyflux dinobatkan menjadi investor choice award di Singapura. Dalam versi Forbes, Lum merupakan satu-satunya wanita yang terdaftar sebagai orang yang terkaya di dunia, sekaligus termuda di dunia.
Tetapi siapa yang menyangka jika Lummemiliki latar belakang yang menyedihkan. Tepatnya pada tahun 1960, saat ia masih bayi, ia ditinggalkan orang tuanya disebuah rumah sakit di Malaysia. Sampai saat ini, ia tidak tahu siapa orang tua kandungnya.
Kemudian, Lum diadopsi oleh seorang nenek di wilayah Kampar. Bersama 4 anak lain yang juga diadpsi. Ia tinggal disebuah desa yang selalu banjir jika hujan tiba.
Karena nenek itu adalah seorang pengangguran yang senang berjudi, Lum pun hidup dalam kemiskinan. Guna meringankan beban ekonomi, Lum berjualan makanan ketika masih di SD. Tetapi semua percuma Lum lakukan, sebab kebiasaan berjudi yang dilakukan oleh ibu angkatnya semakin menambah lilitan utangnya. Saat dirasa tidak mampu lagimengembalikan utangnya yang makin hari makin menumpuk, akhirnya Lum dan ibu angkatnya meninggalkan Malaysia.
Pada tahun 1976, Lum mulai tinggal di Singapura. Bagi Lum, Singapura merupakan sebuah negeri yang mampumemberi pendidikan yang terpresentatif. Karena itu, saat ia menginjak usia 16 tahun, ia bersekolah di Tiong Bahru Secondary School. Kemudian, masuk Hwa Chong Junior College, selanjutnya NUS dan lulus sebagai sarjana kimia pada tahun 1986.
Demi mempertahankan hidup, sekolah, dan cita-citanya, Lum bekerja serabutan selama di Singapura. Untuk kuliah ia mencari beasiswa. Sementara untukmembiayai hidupnya, ia bekerja serabutan. Wajar jika ia tidak bisa menikmati akhir pekan seperti teman-temannya yang asyik jalan-jalan. Sebaliknya, Lum justru berada di supermarket untuk menjajakan barang-barang dagangannya.
Bagi Lum semua itu merupakan pengalaman berharga. Sebab, dari sinilah ia belajar bagaimana mendekati orang dan mengukur respons mereka. Pengalaman seperti inilah yang kemudian sangat bermanfaat ketika Lum memulai bisnisnya.
Saat Lum bekerja di Glaxo Phaceutical sebagai ahli kimia, keadaan ekonominya pun mulai membaik. Dengan gaji US$40 ribu setahun, ia bisa membeli sebuah apartemen dan mobil. Tetapi, setelah menjalani pengalaman selama 4 tahun di Glaxo Phaceutical, Lum mengambil sebuah keputusan nekat, yakni keluar dari Glaxo Phaceutical.
Karena ia berkeyakinan bahwa dengan menjadi pengusaha lebih bisa memperbaiki derajad kehidupannya, akhirnya ia memilih untuk berwirausaha. Hingga pada tahun 1989, lahirlah Hyflux, sebuah perusahaan yang memfokuskan pada penyediaan jasa air mineral. Modal awal untuk mendirikan Hyflux didapatkan dari  hasil menjual mobil dan apartemennya sebesar 20.000 dolar Singapura.
Di awal Hyflux berdiri, Lum belum memiliki pelanggan tetap. Ia lebih sering mengendarai motor dari daerah ke daerah, mengetuk pabrik secara door to door untuk menawarkan saringan air, kemudian seluruh uang yang peroleh ia peroleh diinvestikan ke bisnisnya.
Tak puas hanya menjual peralatan itu, Lum meningkatkan skillnya dengan mengikuti kursus pengelasan pipaledeng profesional. Setelah memiliki keahlian, proyek-proyek pengolahan air menhampirinya. Pada awalnya Lum mengerjakan sendiri semua proyek awal water treatment yang di dapt Hyflux. Berkat kegigihannya dalam mempertahankan kualitas pelayanan, ia pun kerap diundang ke mancanegara untuk membantu penyediaan air bersih.
Lum juga melayani perusahaan Singapura yang mulai membangun fasilitas manufaktur di Cina, Lum benar-benar berupaya untuk membuat mereka puas. Ia menghindari gaya birokratis dalam bekerja. Jika ada persoalan di lokasi kerja, ia akan terbang dari Singapura ke Cina untuk menyelesaikan persoalan.
Sikap inilah yang lantas membuat banyak pejabat di Cina terkesan dan mengundang Lum untuk terlibat dalam banyak proyek pengolahan airdi negeri itu. Pada 2004, proyek-proyek di Cina menyumbang 40% pendapatan Hyflux. Sikap menjaga kepuasan konsumen yang dilakukannya membuat banyakklien terkesan.
Hingga saat ini, Olivia Lum menjadi figur populer di jagad entrepeneurship internasional.

0 comments:

Post a Comment