Olivia Lum adalah pendiri Hyflux, sebuah perusahaan pengolahan air
mineral terbesar di asia tenggara yang sudah merambah Cina, India, dan Timur
Tengah. Pada tahun 2007, perusahaannya mampu mencetak pendapatan hingga US$ 700 juta dan menjadikan Hyflux sebagai perusahaan multi miliar
dolar.
Atas segala sepak terjangnya, Lum meraih banyak penghargaan. Pada
2003 ia dikukuhkan sebagai Young entrepreneur of the year Singapura. Dan
tahun berikutnya Hyflux dinobatkan menjadi investor choice award di
Singapura. Dalam versi Forbes, Lum merupakan satu-satunya wanita yang terdaftar
sebagai orang yang terkaya di dunia, sekaligus termuda di dunia.
Tetapi siapa yang menyangka jika Lummemiliki latar belakang yang
menyedihkan. Tepatnya pada tahun 1960, saat ia masih bayi, ia ditinggalkan
orang tuanya disebuah rumah sakit di Malaysia. Sampai saat ini, ia tidak tahu
siapa orang tua kandungnya.
Kemudian, Lum diadopsi oleh seorang nenek di wilayah Kampar.
Bersama 4 anak lain yang juga diadpsi. Ia tinggal disebuah desa yang selalu
banjir jika hujan tiba.
Karena nenek itu adalah seorang pengangguran yang senang berjudi,
Lum pun hidup dalam kemiskinan. Guna meringankan beban ekonomi, Lum berjualan
makanan ketika masih di SD. Tetapi semua percuma Lum lakukan, sebab kebiasaan
berjudi yang dilakukan oleh ibu
angkatnya semakin menambah lilitan utangnya. Saat dirasa tidak mampu
lagimengembalikan utangnya yang makin hari makin menumpuk, akhirnya Lum dan ibu
angkatnya meninggalkan Malaysia.
Pada tahun 1976, Lum mulai tinggal di
Singapura. Bagi Lum, Singapura merupakan sebuah negeri yang mampumemberi
pendidikan yang terpresentatif. Karena itu, saat ia menginjak usia 16 tahun, ia
bersekolah di Tiong Bahru Secondary School. Kemudian, masuk Hwa Chong Junior
College, selanjutnya NUS dan lulus sebagai sarjana kimia pada tahun 1986.
Demi mempertahankan hidup, sekolah, dan
cita-citanya, Lum bekerja serabutan selama di Singapura. Untuk kuliah ia
mencari beasiswa. Sementara untukmembiayai hidupnya, ia bekerja serabutan. Wajar
jika ia tidak bisa menikmati akhir pekan seperti teman-temannya yang asyik
jalan-jalan. Sebaliknya, Lum justru berada di supermarket untuk menjajakan
barang-barang dagangannya.
Bagi Lum semua itu merupakan pengalaman
berharga. Sebab, dari sinilah ia belajar bagaimana mendekati orang dan mengukur
respons mereka. Pengalaman seperti inilah yang kemudian sangat bermanfaat
ketika Lum memulai bisnisnya.
Saat Lum bekerja di Glaxo Phaceutical sebagai
ahli kimia, keadaan ekonominya pun mulai membaik. Dengan gaji US$40 ribu setahun, ia bisa membeli sebuah apartemen dan
mobil. Tetapi, setelah menjalani pengalaman selama 4 tahun di Glaxo
Phaceutical, Lum mengambil sebuah keputusan nekat, yakni keluar dari Glaxo
Phaceutical.
Karena ia berkeyakinan bahwa dengan menjadi
pengusaha lebih bisa memperbaiki derajad kehidupannya, akhirnya ia memilih
untuk berwirausaha. Hingga pada tahun 1989, lahirlah Hyflux, sebuah perusahaan
yang memfokuskan pada penyediaan jasa air mineral. Modal awal untuk mendirikan
Hyflux didapatkan dari hasil menjual
mobil dan apartemennya sebesar 20.000 dolar Singapura.
Di awal Hyflux berdiri, Lum belum memiliki
pelanggan tetap. Ia lebih sering mengendarai motor dari daerah ke daerah,
mengetuk pabrik secara door to door untuk menawarkan saringan air,
kemudian seluruh uang yang peroleh ia peroleh diinvestikan ke bisnisnya.
Tak puas hanya menjual peralatan itu, Lum
meningkatkan skillnya dengan mengikuti kursus pengelasan pipaledeng
profesional. Setelah memiliki keahlian, proyek-proyek pengolahan air menhampirinya.
Pada awalnya Lum mengerjakan sendiri semua proyek awal water treatment
yang di dapt Hyflux. Berkat kegigihannya dalam mempertahankan kualitas
pelayanan, ia pun kerap diundang ke mancanegara untuk membantu penyediaan air
bersih.
Lum juga melayani perusahaan Singapura yang
mulai membangun fasilitas manufaktur di Cina, Lum benar-benar berupaya untuk
membuat mereka puas. Ia menghindari gaya birokratis dalam bekerja. Jika ada
persoalan di lokasi kerja, ia akan terbang dari Singapura ke Cina untuk menyelesaikan
persoalan.
Sikap inilah yang lantas membuat banyak
pejabat di Cina terkesan dan mengundang Lum untuk terlibat dalam banyak proyek
pengolahan airdi negeri itu. Pada 2004, proyek-proyek di Cina menyumbang 40%
pendapatan Hyflux. Sikap menjaga kepuasan konsumen yang dilakukannya membuat
banyakklien terkesan.
Hingga saat ini, Olivia Lum menjadi figur
populer di jagad entrepeneurship internasional.


0 comments:
Post a Comment