Anak kecil itu
berlari-lari pulang ke rumahnya.Tangannya yang mungil memegang sepucuk surat
dari guru sekolahnya.Di ambang pintu rumah ia berteriak,
"Mama,
Mama, ada surat dari Pak Guru".
Ibunya,Nancy
Elliot, mantan guru, menyambut anak bungsu dari tujuh bersaudara itu dengan ciuman
dan pelukan penuh kasih sayang.
"Coba Mama
lihat,"
ujarnya seraya
membuka amplop surat dengan hati-hati. Tangannya gemetar saat matanya
menelusuri kata demi kata yang terpampang jelas di hadapannya: "Anak ini terlalu
bodoh untuk dididik. Kami mengembalikannya pada Anda. Mulai besok, ia tak perlu
datang ke sekolah lagi."
"Ma,
mengapa Mama menangis?"
tanya si anak, penuh keluguan. Dengan cucuran
air mata sang ibu meraih tubuh kecil itu, memeluknya
sambil berkata,
"Thomas, I educate you my self." Waktu itu, si anak berusia 7
tahun, dan baru tiga bulan
mengecap pendidikan formal di sekolah. Dan ia memang tak pernah masuk sekolah lagi. Ketika usianya 12 tahun, anak
yang dipanggil Thomas
itu menjadi penjual kue, koran, kacang, dan permen di kereta api. la pernah ditampar kondektur, sehingga
pendengarannya (telinga) rusak
dan dilarang bekerja di kereta api. Sungguh sulit dibayangkan bahwa anak yang "terlalu bodoh", drop-out
Sekolah Dasar, dan sempat
menjadi pedagang asongan itu, kemudian mencantumkan namanya dalam deretan ilmuwan paling terkemuka di muka bumi.
Tidak kurang
dari 3-000 penemuan
dicatat atas namanya, atau atas
nama orang-orang yang bekerja dengannya. Dialah Thomas Alva Edison. Penemuan-penemuan seperti laboratorium riset untuk
industri,
stasiun tenaga
listrik, sistem distribusi Kstrik, fonograf (kemudian dikembangkan menjadi taperecorder),
kinetograf (kamera film),
kinetoskop (proyektor film), lokomotif listrik, mikrofon dan pengeras suara,
adalah beberapa contoh yang selalu dikaitkan dengan nama Edison. Apakah Edison menjadi
cerdas secara ajaib, sehingga ia menjadi tokoh yang berhasil? Ternyata tidak. Meskipun
ia sangat gemar membaca, dan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam
berkonsentrasi sedemikian rupa, sehingga melupakan semua hal di luar subyek
yang sedang diselidikinya, Edison juga seorahg pelupa berat. Mungkin sulit
dipercaya ketika suatu hari, saat masih asyik
memusatkan pikirannya untuk
memecahkan sebuah masalah ilmiah, Edison pergi ke kas negara
untuk membayar pajak. la harus
berdiri cukup lama, sebelum akhirnya mendapat giliran. Dan
ketika gilirannya tiba, ia lupa
narnanya sendiri.Salah seorang tetangga, setelah mengetahui betapa ia
kebingungan, mengingatkan bahwa namanya adalah Thomas Alva Edison.
Masih ada cerita lain yang tak
kalah menarik. Suatu pagi, setelah semalam suntuk bekerja di
laboratorium, Edison menantikan
sarapannya. Mungkin karena terlalu lelah, ia tertidur di meja
makan. Salah seorang asistennya,
yang baru saja selesai makan ham dan telur, ingin mempermainkan dirinya. Ia
meletakkan piring-piring dan cangkir kosong di meja Edison. Beberapa menit kemudian,
Edison bangun, mengusap matanya dan melihat piring dan cangkir kosong. Ia
berpikir sebentar, lalu menyimpulkan bahwa tentunya ia sudah sarapan sebelum
tertidur. la lalu menjauhkan diri dari meja makan dan mulai bekerja lagi.
Thomas Edison tak akan pernah tahu duduk perkara yang sebenarnya, jika
asistenasistennya tidak tertawa terbahak-bahak.
Jadi, Thomas Alva Edison bukanlah
seorang jenius dalam
arti yang dibayangkan banyak
orang.
Namun terbukti bahwa ia sukses luar biasa. Dalam usia belasan tahun, ia dapat membuat beberapa peralatan mesin cetak
telegrafis yang dijualnya
seharga US$40.000. Pada usia 2$ tahun, ia mendirikan laboratorium riset untuk industri. Dalam waktu 13 bulan,
ia mencatatkan
400 macam
penemuan. Saya kira Edison benar, ketika ia mengatakan bahwa orang bisa
berhasil bila memiliki 1 % inspirasi (ide yang hebat) dan 99% perspirasi
(keringat alias kerja keras). Sayang, saya tak pernah berhasil menemukan,
berapa harga keringat seorang Edison, yang meninggal di West Orange, New York,
18 Oktober 1931, dalam usia 84 tahun.
Anda
tahu?

.jpg)
0 comments:
Post a Comment