Konon, dalam
kultur masyarakat Jawa, pria yang sukses didefinisikan sebagai orang-orang yang
memiliki lima hal penting. Pertama, sukses berarti memiliki garwo alias
istri. Seorang lelaki yang belum beristri dianggap 'belum lengkap'. Bahkan
dalam cerita raja-raja Jawa, memiliki istri saja masih kurang 'mentereng'.
Selain permaisuri yang memiliki hak melahirkan putra mahkota, para raja
umum-nya memiliki selir-selir yang menakjubkan jumlahnya dan sebagian
dipersembahkan oleh rajaraja kecil yang takluk padanya sebagai upeti. Kedua,
sukses berarti memiliki banyak pusoko (pusaka). Ini menyangkut bukan
saja keris, badik, rencong atau senjata andalan—yang sebagian disebut
'kiai'—tetapi juga sederet kedudukan atau pangkat dan juga gelar kebangsawanan
atau kesarjanaan. Makin ampuh senjata koleksinya, makin tinggi pangkatnya,
makin banyak gelarnya, makin "sukses" ia di mata pengikutnya. Ketiga,
sukses berarti memiliki wismo atau rumah. Rumah yang makin banyak
atapnya, makin luas tanahnya, makin megah bangunannya, berarti makin sukseslah
si pemiliknya. Kalau rumah masih kontrakan atau belum lunas cicilannya, atau
luasnya kurang dari lapangan bola, masih jauhlah ia dari sukses. Keempat,
sukses berarti memiliki turonggo atau kendaraan tunggangan. Kalau dulu
hal ini diidentikkan dengan berbagai jenis kuda, maka sekarang diartikan
sebagai kendaraan modern seperti Lexus, Lamborgini, Mercedez, Volvo, Terrano,
Land Cruiser
atau sejenisnya. Makin banyak dan makin mahal, makin sukseslah si pemiliknyadi
mata orang. Terakhir, sukses berarti memiliki kukilo. Jika dulu berarti
perkutut, maka sekarang dapat diartikan apa saja yang berfungsi sebagai pengisi
waktu luang, semacam hobi atau klangenan yang
relevan. Main
golf, mengoleksi batu permata dan berlian, berburu lukisan mahal, pesiar dengan
kapal
pribadi,
koleksi ikan arwana, macan tutul atau gading dari Afrika, termasuk dalam
kategori ini.
Definisi sukses
di atas bersifat seksis, diskriminatif berdasarkan jenis kelamin. Karenanya
dalam
perkembangannya
kemudian masyarakat memberikan definisi baru yang lebih netral.
Sukses kemudian
diberi atribut "baru", yakni: car, credit card, car phone,
condominium and career.
The Five-C ini tidak
memiliki perbedaan esensial dengan sukses sebagaimana disebut di atas. Car
identik dengan turonggo,
condominium searti dengan wismo, career sama dan sebangun derfgan pusoko.
Halnya garwo,
mungkin masih berlaku juga bagi lelaki. Hanya saja wanita yang memiliki
banyak
lelaki masih
belum positif citranya di masyarakat kita. Wanita sukses masih dihubungkan
dengan
suami dan anak.
Punya karier bagus tanpa suami dianggap masih kurang lengkap. Apalagi kalau
punya anak
tanpa suami. Soal car phone dimasukkan sebagai syarat sukses karena
diasumsikan sebagai bukti keakraban dengan teknologi modern. Tak dipersoalkan
apakah itu aset yang bernilai produktif atau hanya untuk kepentingan
konsumtif-^-semacam kukilo yang berfungsi sebagai klangenan. Dan
soal credit
card dijadikan indikasi
banyaknya uang di bank. Kartu kredit menjadi simbol manusia kaya raya.
Makin banyak
kartu yang dikantunginya (Visa dan Master dari berbagai bank, Amex, Diners, dll.),
makin "berhak" orang merasa dirinya sukses. Pandangan sukses di atas
secara tegas mengatakan bahwa sukses berarti to have—memiliki.
Pertanyaanya
adalah: apakah dengan memiliki banyak hal orang menjadi bahagia? Apakah
kebahagiaan itu? Apa ciri orang bahagia? Thomas Szaz, seorang psikiater, pernah
menuturkan bahwa kebahagiaan adalah "suatu keadaan imajinatif
yang dulu dikenakan oleh mereka yang masih hidup kepada orang yang telah
meninggal, dan sekarang biasanya dikenakan oleh orang yang sudab dewasa
kepada anak-anak dan sebaliknya oleh anakanak kepada orang dewasa".
Artinya anak-anak berpikir betapa bahagianya menjadi orang dewasa, yang
bebas memilih, dipercaya, punya uang,
kuat, dst. Karenanya mereka ingin cepat-cepat dianggap dewasa (dengan
meniru berbagai perilaku orang dewasa, misalnya). Sementara itu
orang dewasa
mengingat masa kanak-kanak mereka sebagai masa-masa bahagia. Pada masa itu
tidak ada tanggung jawab, tidak ada tuntutan, tidak banyak kewajiban, hanya
bermain, makan dan tidur sesuka hati. Bahagia juga dipahami sebagai suatu
keadaan hati yang abadi yang berupa kepuasan, keadaan
damai sejahtera
dan pengharapan yang amat mendalam—bukan sekadar getaran-getaran perasaan yang
tak berarti karena mengalami peristiwa yang menyenangkan. Dalam pengertian
Webster, orang yang tidak bahagia bukanlah orang sukses, sekalipun ia serba
memiliki. Sebab Webster mendefmisikan sukses sebagai "kepuasan batin
atau kebahagiaan karena pencapaian tujuan-tujuan tertentu dalam
tahaptahap kehidupan". Apabila orang memiliki segala sesuatu
yang diinginkannya, tetapf.. ia tidak mengalami kepuasan batin, maka orang itu
belum sukses. Pertanyaannya adalah bagaimana kita mengukur atau mengetahui
apakah seseorang itu bahagia atau tidak? John Powel dalam Happiness Is an
Inside Job, menuturkan bahwa kata "bahagia" dan
"kebahagiaan" diambil dari kata Latin beatus dan beatitude
(Inggris) yang berarti tantangan dan perolehan, yakni menjanjikan memberikan
(secara tak langsung) kebahagiaan sejati kep'ada orang yang menyambut tantangan
dan selangkah demi selangkah memperoleh sesuatu, mencapai sesuatu, atau
menyelesaikan sesuatu. Dalam bukunya Powel menyebutkan Sepuluh
Laku Hidup
Bahagia sebagai
berikut: pertama,menerima diri apa adanya; kedua, menerima sepenuhnya
tanggung jawab
atas hidup kita; ketiga, berusaha memenuhi segala kebutuhan kita untuk
bersantai, berolah raga, dan makan; keempat, hidup kita harus kita jadikan
wujud cinta kasih; kelima, kita harus menghirup udara baru dengan keluar dari
kungkungan kemapanan yang nyaman; keenam, kita harus belajar menjadi
"penemu jalan baik"; ketujuh, kita harus mengupayakan pertumbuhan,
bukan kesempurnaan; kedelapan, kita harus belajar berkomunikasi secara efektif;
kesembilan, kita harus belajar bersuka cita atas hal-hal baik dalam hidup;
kesepuluh, kita harus berdoa sebagai bagian dari hidup kita
sehari-hari.Yang
paling menarik dari Powel adalah pernyataannya bahwa kodrat hidup manusia
adalah
hidup bahagia.
Dengan kata lain, segala upaya untuk hidup bahagia adalah upaya memenuhi
"panggilan
kodrati" sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Menjadi sukses
mungkin menarik bila sukses berarti bahagia. Dan pandangan sukses sebagai
memiliki segala sesuatu yang diinginkan dapat mereduksi kemanusiaan seseorang.
Sukses sejati berarti memiliki untuk dapat memberi, memiliki untuk dapat
belajar menerobos kemapanan, belajar untuk bersyukur dan menebarkan cinta
kasih, belajar untuk bertumbuh dan berkembang. Menjadi sukses sungguh
"mengerikan", bila dengan memiliki banyak kita justru terisolasi dan teralienasi (terasing,
merasa hampa dalam kemewahan materi) dari hidup dan kehidupan itu sendiri.


0 comments:
Post a Comment