Sunday, 9 February 2014

Sukses Itu Bahagia




Konon, dalam kultur masyarakat Jawa, pria yang sukses didefinisikan sebagai orang-orang yang memiliki lima hal penting. Pertama, sukses berarti memiliki garwo alias istri. Seorang lelaki yang belum beristri dianggap 'belum lengkap'. Bahkan dalam cerita raja-raja Jawa, memiliki istri saja masih kurang 'mentereng'. Selain permaisuri yang memiliki hak melahirkan putra mahkota, para raja umum-nya memiliki selir-selir yang menakjubkan jumlahnya dan sebagian dipersembahkan oleh rajaraja kecil yang takluk padanya sebagai upeti. Kedua, sukses berarti memiliki banyak pusoko (pusaka). Ini menyangkut bukan saja keris, badik, rencong atau senjata andalan—yang sebagian disebut 'kiai'—tetapi juga sederet kedudukan atau pangkat dan juga gelar kebangsawanan atau kesarjanaan. Makin ampuh senjata koleksinya, makin tinggi pangkatnya, makin banyak gelarnya, makin "sukses" ia di mata pengikutnya. Ketiga, sukses berarti memiliki wismo atau rumah. Rumah yang makin banyak atapnya, makin luas tanahnya, makin megah bangunannya, berarti makin sukseslah si pemiliknya. Kalau rumah masih kontrakan atau belum lunas cicilannya, atau luasnya kurang dari lapangan bola, masih jauhlah ia dari sukses. Keempat, sukses berarti memiliki turonggo atau kendaraan tunggangan. Kalau dulu hal ini diidentikkan dengan berbagai jenis kuda, maka sekarang diartikan sebagai kendaraan modern seperti Lexus, Lamborgini, Mercedez, Volvo, Terrano,
Land Cruiser atau sejenisnya. Makin banyak dan makin mahal, makin sukseslah si pemiliknyadi mata orang. Terakhir, sukses berarti memiliki kukilo. Jika dulu berarti perkutut, maka sekarang dapat diartikan apa saja yang berfungsi sebagai pengisi waktu luang, semacam hobi atau klangenan yang
relevan. Main golf, mengoleksi batu permata dan berlian, berburu lukisan mahal, pesiar dengan kapal
pribadi, koleksi ikan arwana, macan tutul atau gading dari Afrika, termasuk dalam kategori ini.
Definisi sukses di atas bersifat seksis, diskriminatif berdasarkan jenis kelamin. Karenanya dalam
perkembangannya kemudian masyarakat memberikan definisi baru yang lebih netral.
Sukses kemudian diberi atribut "baru", yakni: car, credit card, car phone, condominium and career.
The Five-C ini tidak memiliki perbedaan esensial dengan sukses sebagaimana disebut di atas. Car
identik dengan turonggo, condominium searti dengan wismo, career sama dan sebangun derfgan pusoko.
Halnya garwo, mungkin masih berlaku juga bagi lelaki. Hanya saja wanita yang memiliki banyak
lelaki masih belum positif citranya di masyarakat kita. Wanita sukses masih dihubungkan dengan
suami dan anak. Punya karier bagus tanpa suami dianggap masih kurang lengkap. Apalagi kalau
punya anak tanpa suami. Soal car phone dimasukkan sebagai syarat sukses karena diasumsikan sebagai bukti keakraban dengan teknologi modern. Tak dipersoalkan apakah itu aset yang bernilai produktif atau hanya untuk kepentingan konsumtif-^-semacam kukilo yang berfungsi sebagai klangenan. Dan soal credit
card dijadikan indikasi banyaknya uang di bank. Kartu kredit menjadi simbol manusia kaya raya.
Makin banyak kartu yang dikantunginya (Visa dan Master dari berbagai bank, Amex, Diners, dll.), makin "berhak" orang merasa dirinya sukses. Pandangan sukses di atas secara tegas mengatakan bahwa sukses berarti to have—memiliki.

Pertanyaanya adalah: apakah dengan memiliki banyak hal orang menjadi bahagia? Apakah kebahagiaan itu? Apa ciri orang bahagia? Thomas Szaz, seorang psikiater, pernah menuturkan bahwa kebahagiaan adalah "suatu keadaan imajinatif yang dulu dikenakan oleh mereka yang masih hidup kepada orang yang telah meninggal, dan sekarang biasanya dikenakan oleh orang yang sudab dewasa kepada anak-anak dan sebaliknya oleh anakanak kepada orang dewasa". Artinya anak-anak berpikir betapa bahagianya menjadi orang dewasa, yang bebas memilih, dipercaya, punya uang,  kuat, dst. Karenanya mereka ingin cepat-cepat dianggap dewasa (dengan meniru berbagai perilaku orang dewasa, misalnya). Sementara itu
orang dewasa mengingat masa kanak-kanak mereka sebagai masa-masa bahagia. Pada masa itu tidak ada tanggung jawab, tidak ada tuntutan, tidak banyak kewajiban, hanya bermain, makan dan tidur sesuka hati. Bahagia juga dipahami sebagai suatu keadaan hati yang abadi yang berupa kepuasan, keadaan
damai sejahtera dan pengharapan yang amat mendalam—bukan sekadar getaran-getaran perasaan yang tak berarti karena mengalami peristiwa yang menyenangkan. Dalam pengertian Webster, orang yang tidak bahagia bukanlah orang sukses, sekalipun ia serba memiliki. Sebab Webster mendefmisikan sukses sebagai "kepuasan batin atau kebahagiaan karena pencapaian tujuan-tujuan tertentu dalam tahaptahap kehidupan". Apabila orang memiliki segala sesuatu yang diinginkannya, tetapf.. ia tidak mengalami kepuasan batin, maka orang itu belum sukses. Pertanyaannya adalah bagaimana kita mengukur atau mengetahui apakah seseorang itu bahagia atau tidak? John Powel dalam Happiness Is an Inside Job, menuturkan bahwa kata "bahagia" dan "kebahagiaan" diambil dari kata Latin beatus dan beatitude (Inggris) yang berarti tantangan dan perolehan, yakni menjanjikan memberikan (secara tak langsung) kebahagiaan sejati kep'ada orang yang menyambut tantangan dan selangkah demi selangkah memperoleh sesuatu, mencapai sesuatu, atau menyelesaikan sesuatu. Dalam bukunya Powel menyebutkan Sepuluh
Laku Hidup Bahagia sebagai berikut: pertama,menerima diri apa adanya; kedua, menerima sepenuhnya
tanggung jawab atas hidup kita; ketiga, berusaha memenuhi segala kebutuhan kita untuk bersantai, berolah raga, dan makan; keempat, hidup kita harus kita jadikan wujud cinta kasih; kelima, kita harus menghirup udara baru dengan keluar dari kungkungan kemapanan yang nyaman; keenam, kita harus belajar menjadi "penemu jalan baik"; ketujuh, kita harus mengupayakan pertumbuhan, bukan kesempurnaan; kedelapan, kita harus belajar berkomunikasi secara efektif; kesembilan, kita harus belajar bersuka cita atas hal-hal baik dalam hidup; kesepuluh, kita harus berdoa sebagai bagian dari hidup kita
sehari-hari.Yang paling menarik dari Powel adalah pernyataannya bahwa kodrat hidup manusia adalah
hidup bahagia. Dengan kata lain, segala upaya untuk hidup bahagia adalah upaya memenuhi
"panggilan kodrati" sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Menjadi sukses mungkin menarik bila sukses berarti bahagia. Dan pandangan sukses sebagai memiliki segala sesuatu yang diinginkan dapat mereduksi kemanusiaan seseorang. Sukses sejati berarti memiliki untuk dapat memberi, memiliki untuk dapat belajar menerobos kemapanan, belajar untuk bersyukur dan menebarkan cinta kasih, belajar untuk bertumbuh dan berkembang. Menjadi sukses sungguh "mengerikan", bila dengan memiliki banyak kita justru terisolasi dan teralienasi (terasing, merasa hampa dalam kemewahan materi) dari hidup dan kehidupan itu sendiri.

0 comments:

Post a Comment